IKLAN

Senin, 19 Agustus 2013

PERIBAHASA INDONESIA, INGGRIS DAN ARAB

Sebagai mahluk sosial, tentunya manusia membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi guna menyampaikan maksud, perasaan, ide atau gagasan kepada individu lainnya. Umumnya orang ingin mengungkapkan gagasan dan perasaannya secara langsung maupun tidak langsung yang mudah difahami oleh orang lain tanpa harus memboroskan kalimat atau tidak menggunakan kalimat yang panjang dan bertele-tele.

Menurut Gorys Keraf (1980), bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Tak heran jika masyarakat Indonesia, Arab, dan Inggris dalam mengungkapkan sesuatu, baik berupa pujian, kritikan maupun nasehat biasanya menggunakan kalimat ringkas berupa perumpamaan dengan simbol-simbol yang bermakna kiasan yang penuh hikmah dan mereka lebih merasa terwakili ide-ide mereka dengan menggunakan perumpamaan dan simbol tersebut.
Ilmu yang mempelajari tentang simbol atau lambang yang sangat berhubungan erat dengan apa yang dijadikan lambang atau ilmu yang berhubungan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda dinamakan semiotika. Ada beberapa simbol yang telah umum dikenal di seluruh dunia dan telah disepakati bersama, misalnya simbol lalu lintas. Namun ada juga simbol atau lambang yang belum disepakati bersama dalam penggunaan simbol hewan, tumbuh-tumbuhan ataupun benda untuk menggambarkan sesuatu. Misalnya, singa, beruang, kuda yang melambangkan orang yang kuat, ular melambangkan orang yang licik, monyet melambangkan orang yang lincah (orang Arab memuji dengan ungkapan “Anta kal qird-kamu bagaikan monyet sebagai suatu pujian), keledai, udang melambangkan orang yang bodoh, bunga melambangkan kecantikan, dan lain sebagainya.
Salah satu penggunaan bahasa dalam berkomunikasi menggunakan makna kias atau makna yang tidak sebenarnya adalah peribahasa. Peribahasa biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai semboyan yang berhubungan erat dengan aspek kemasyarakatan dan kebudayaan karena pribahasa itu digunakan untuk menggambarkan berbagai kegiatan, kondisi dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejak zaman nenek moyang, bangsa Indonesia telah menggunakan peribahasa dalam bahasa lisan. Fungsi dan penyebarannya pun dilakukan secara lisan oleh masyarakat untuk menyampaikan pujian, sindiran atau perumpamaan. Peribahasa di setiap Negara sangat bervariatif, baik di Indonesia, Arab, maupun Inggris dan bersifat turun temurun sesuai dengan peradaban setempat. Perbedaan budaya pun merupakan salah satu faktor yang membuat adanya perbedaan unsur peribahasa meskipun maksud atau makna dari peribahasa itu sama, karena untuk memahami suatu peribahasa tidaklah mudah. Di dalam suatu peribahasa bukan hanya terkandung makna kamus, tetapi juga makna majas atau kiasan yang merupakan bagian dari semantik yang menelaah hubungan simbol-simbol dengan objek yang merupakan wadah penerapan simbol tersebut.
Peribahasa termasuk dalam bidang semantik. Definisi peribahasa itu sendiri menurut Harimurti Kridalaksana (1993) adalah kalimat atau penggalan kalimat yang bersifat turun temurun, digunakan untuk menguatkan maksud karangan pemberi nasehat dan pengajaran pedoman hidup. Menurut Lukman Ali (1995) bahwa peribahasa adalah kalimat ringkas yang berisi perbandingan, nasehat, prinsip hidup atau tingkah laku. Hal ini senada dengan definisi yang dikemukakan oleh Macdonald (1981) dengan “A short familiar sentence expressing a supposed truth or moral lesson-Sebuah kalimat ringkas yang masyhur menggambarkan hakikat pengandaian atau pelajaran tentang moral”. Menurut Ronald Ridout dan Clifford (1967), “A popular short saying with words of advice or warning-Perkataan pendek yang masyhur dalam bentuk nasehat atau peringatan”. Sedangkan menurut Marzuki (1378.H) bahwa peribahasa adalah perkataan ringkas yang becirikan Ijaz, perumpamaan dan penyamaan, hikmah, masyhur, kinayah (metonimi), dan keabsahannya.
Dari definisi-definisi di atas, baik dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab menunjukkan bahwa peribahasa di ketiga Negara tersebut memiliki beberapa persamaan arti, yaitu kalimat pendek yang mashur secara turun temurun yang digunakan untuk memberi nasehat, peringatan, sindiran maupun sebagai pedoman hidup.
Dapat dimaklumi bahwa antar kehidupan manusia di muka bumi ini memiliki kemiripan walaupun berbeda situasi dan kondisinya. Meskipun berbeda waktu dan zaman namun sebahagian dari kondisi dan pengalaman di antara bangsa boleh saja memiliki persamaan. Tak heran jika kita mengklaim bahwa peribahasa suatu bahasa berasal dari bahasa yang lain, sebagaimana dapat kita lihat pada peribahasa Indonesia di bawah ini:
“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”
Dalam bahasa Arab, dari penggalan hadis Rasul SAW:
اليد العليا خير من اليد السفلى
(tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah)
Dalam bahasa Inggris:
‘It is better to give than to take”
(lebih baik memberi dari pada menerima)
Dari ketiga peribahasa di atas dapat dikatakan bahwa ada persamaan bentuk dan sumber antara ketiganya dari ajaran agama atau wahyu Ilahi. Peribahasa Indonesia bersumber dari ajaran islam atau bahasa Arab (namun ada juga yang bersumber dari agama hindu-budha dan lain-lain), dan antara peribahasa Arab dan Inggris bersumber dari kitab suci. Contoh lain dari peribahasa di atas adalah perkataan Al-Masih;”It is more blessed to give than to receive”.
Peneliti terdahulu telah membahas tentang bentuk-bentuk bahasa kiasan dan lebih cenderung atau memfokuskan kajian mereka pada asal usul, definisi, fungsi, dan hubungan antara perumpamaan dengan maksud. Pada buku ini lebih berfokus pada perbandingan antara peribahasa Indonesia, Arab, dan Inggris dengan menggunakan pendekatan Contrastive Analysis (analisa perbandingan) untuk mengetahui persamaan serta perbedaan-perbedaan dan pola-pola penggunaan kata dalam struktur diantara peribahasa ketiga bahasa tersebut yang diperoleh dari beberapa sumber, yaitu:
-          Kamus peribahasa Indonesia, oleh Sarwono Pusposaputro
-          Majma’ul Amtsaal, oleh Abu Fadhl al-Maydani
-          Al-Mustaqsha fil-Amtsaal al-Arab, oleh Zamkhasiry
-          Oxford Dictionary of English Proverb
-          English Proverbs Explained, oleh Ronald Ridout & Clifford Witting
Sebagai salah satu hazanah kesusastraan yang bersumber dari tradisi yang turun temurun tentunya peribahasa mempunyai peranan sosio-budaya yang cukup besar bagi setiap masyarakat bangsa. Peribahasa menggambarkan karakter dan cara berfikir pemakai bahasa dimana dengan mengetahui atau mempelajarinya berarti secara tidak langsung akan mengetahui karakteristik, cara berfikir dan budaya suatu bangsa. Dengan kata lain, peribahasa merupakan identitas suatu bangsa. Namun sayangnya, dewasa ini banyak orang yang tidak mengetahui dan acuh tak acuh terhadap peribahasa, padahal ia adalah kekayaan budaya dan kesusastraan sebagai identitas suatu bangsa yang perlu dipelihara dengan baik. Jika tidak, maka sebagian dari nilai-nilai kemasyarakatan itu akan punah, baik dari segi bahasa lisan maupun tingkah laku.

Dengan mengetahui dan mempelajari peribahasa dan membandingkannya antara bahasa satu dengan lainnya, maka akan memudahkan untuk mempelajari bahasa dan budaya bangsa lain. Mengacu pada tujuan-tujuan tersebut maka penulis merasa perlu untuk menyusunnya dalam bentuk buku yang kiranya dapat menambah referensi bagi pembelajar dan informasi bagi siapa saja yang ingin lebih mendalami kajian ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar