IKLAN

Minggu, 10 November 2013

A Primer in Theory Construction By: Paul Davidson Reynolds

Saidna Zulfiqar bin Tahir 
Statement (Pernyataan)
Ketika suatu konsep dipresentasikan dan ada kesepakatan di antara para ahli tentang maknanya, maka konsep itu dapat digunakan dalam bentuk penyataan-pernyataan (statement)
yang menggambarkan “dunia nyata”. Bab ini akan membahas bentuk-bentuk pernyataan yang digunakan untuk mengekspresikan pengetahuan ilmiah. Sedangkan teori-teori atau kumpulan dari pernyataan-pernyaan akan didiskusikan pada bab selanjutnya.

Pernyataan dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu pernyataan yang mengklaim adanya pehenomena yang merujuk pada konsep (eksistence statement), dan pernyataan yang menggambarkan hubungan antar konsep (relational statement). Setelah mendiskusikan perbedaan jenis-jenis hubungan diantara konsep (baik korelasi maupun causal), perbedaan tingkat abstraksi juga akan dibahas. Pada akhirnya, lima tipe dari pernyataan-pernyataan teoritis (hokum, axioma, proposisi, hypothesis, dan kenyataan yang digeneralisasikan) akan diuji berdasarkan hubungannya terhadap teori yang sistematik dan realita dari sebuah penelitian.

Eksistensi dari pernyataan

Pernyataan-pernyataan itu dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu pernyataan yang menyatakan bahwa sebuah konsep harus benar keberadaannya dan pernyataan yang menggambarkan suatu hubungan antar konsep-konsep tersebut. Contoh dari pernyataan-pernyataan yang mengklaim keberadaan konsep, yaitu;

-          That object is a chair – objek itu adalah kursi”
-          That chair is brown – kursi itu berwarna coklat”
-          That object is a person – obejek itu adalah manusia”
-          That person has a high authoritarian test score – orang itu memiliki hak mendapatkan nilai yang tinggi”
-          That object is a face-to-face group – objek itu adalah grup yang berpasangan”
-          That small face-to-face group has a status hierarchy – kelompok kecil yang berpasangan itu mempunyai kedudukan secara hirarki”

Masing-masing dari penyataan ini mempunyai bentuk dasar: sebuah konsep, yang dapat diidentifikasi dengan istilah, yang diterapkan kepada sebuah objek atau phenomena. Dengan kata lain, objek atau phenomena tersebut diidentifikasi (object, chair, person, small face-to-face group”), dan dinyatakan bahwa objek yang teridentifikasi itu benar-benar ada dan merupakan sebuah perumpamaan dari beberapa konsep (chair, brown, person, high authoritarian test score” dan seterusnya).catatan bahwa meskipun pernyataan-pernyataan itu menunjukkan keberadaan atau tingkat keberadaan, contoh, tingkat kewenangan skor tes, tergantung pada level angka-angka dari konsep teoritis.

Eksistensi dari pernyataan-pernyataan itu sangatlah kompleks dan masih tetap mempertahankan bentuk dasarnya. Sebagai contoh:
(a)    Ada dua individu di dalam kelompok X
(b)   Setiap individu dapat berbicara dengan individu lain tentang masalah pribadi di dalam kelopok X
(c)    Setiap individu dapat memformulasikan perbedaan kesan pribadi terhadap individu lain di dalam kelompok X
Sehingga kelompok itu adalah kelompok kecil yang saling berhadapan muka.

Dalam kasus ini, sebuah konsep “small face-to-face group” adalah bagian yang mewakili kelompok X karena ia memiliki karakteristik a, b, dan c. Pernyataan itu mengklaim keberadaan sebuah contoh dari konsep.

Karena bentuk ini sangat menyerupai bentuk dari definisi, sehingga perbedaan antara definisi dan eksistensi pernyataan patutlah diklarifikasikan. Definisi menggambarkan karakteristik-karakteristik dari sebuah konsep. Sedangkan eksistensi pernyataan yang mengklaim bahwa karakteristik-karakteristik itu dengan demikian merupakan contoh-contoh dari konsep yang benar-benar ada dalam “dunia nyata”. Definisi menggambarkan konsep-konsep; eksistensi pernyataan mengklaim keberadaan konsep-konsep itu.

Eksistensi pernyataan bisa saja “benar” atau “salah” tergantung kepada keadaan-keadan. Sebagai contoh, pernyataan “It is noon here-di sini siang” benar bahwa dimanapun hal ini akan terjadi sekali dalam sehari. Pernyataan yang lebih konkrit lagi “It is noon on March 24, 1932, in Paris, France” benar bahwa hal itu pernah sekali terjadi dan sebuah tempat. Ringkasnya, perbedaan-perbedaan itu ada  pada tingkat abstraksi, satu perbedaan akan didiskusikan dibawah ini, penerapan dari eksistensi pernyataan dan pengaruhnya terhadap kebenarannya “Correctness”.

Hubungan antara Pernyataan-pernyataan

Terdapat jenis lain dari pernyataan yang menggambarkan suatu hubungan antara dua konsep. Dengan mengetahui eksistensi contoh dari sebuah konsep yang menyampaikan informasi tentang eksistensi dari konsep lainnya. Sebagai contoh:

Jika seseorang itu adalah anggota dari perhimpunan suatu perguruan tinggi, maka ia berhak mendapatkan skor tes yang tinggi.

Pernyataan ini menyatakan bahwa jika Anda mengidentifikasikan seseorang itu sebagai “anggota dari perhimpunan suatu perguruan tinggi” maka Anda dapat memprediksinya akan memperoleh “Skor tes yang tinggi” karena pernyataan ini menggambarkan sebuah hubungan diantara dua konsep. Pernyataan semacam ini disebut juga dengan pernyataan hubungan (relational statements).

Inti dari pengetahuan ilmiah adalah mengekspresikan dari pernyataan relational ini. Eksistensi pernyataan menerapkan definisi-definisi ini ke dunia nyata, hanya dapat memberikan sebuah typology (pengklasifikasian menurut jenisnya), pengklasifikasian terhadap objek-objek dan phenomena. Menjelaskan, memprediksi, dan makna dari pemahaman, semua itu tergantung pada hubungan antara pernyataan-pernyataan (relational statement).

Hubungan pernyataan-pernyataan itu dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu yang mendiskripsikan suatu hubungan antara dua konsep (association) dan yang mendiskripsikan hubungan sebab akibat antara dua konsep (causal relation). Sebagai contoh;

Jika seseorang itu adalah anggota dari perhimpunan suatu perguruan tinggi, maka ia berhak mendapatkan skor tes yang tinggi.

Contoh ini menunjukkan atas pernyataan hubungan (Association), ini menyatakan bahwa seseorang dalam persatuan akan memperoleh skor tes yang tinggi. Dalam konteks ini, ia tidak menyatakan bahwa memiliki perhimpunan akan merubah tingkat kewenangan seseorang. Juga tidak menyatakan bahwa hasil skor tes yang tinggi tidak akan diraih oleh siswa yang tidak memiliki hubungan perhimpunan pada perguruan tinggi. Hal itu semata-mata menyatakan bahwa kedua konsep itu, keanggotaan dalam persaudaraan, dan hak mendapatkan skor yang tinggi adalah saling berhubungan atau berkorelasi, dan alasan ini menunjukkan atas assosiational statement.

Sebaliknya, pada pernyataan berikut ini:

Keanggotaan dalam suatu perhimpunan akan meningkatkan skor tes seseorang

Mengindikasikan satu konsep, keanggotaan dalam suatu perhimpunan, menyebabkan adanya perubahan pada konsep yang lain, wewenang pada skor tes. Pernyataan ini menggambarkan hubungan sebab akibat yang disebut dengan “causal statement”.
Pernyataan Asosiatif (associational statement)

Pada dasarnya, pernyataan asosiatif mendiskripsikan konsep-konsep apa saja yang terjadi atau berada secara bersamaan. Ketika mengukur hubungan asosiatif pada level data angka-angka yang berbentuk interval dan rasio digunakan kata “correlation” yang kadang digunakan untuk menunjukkan pada degree (tingkat) dari hubungan asosiatif.

Hakikat dari hubungan asosiatif atau korelasi antara dua konsep dapat dilihat pada tiga tipe di bawah ini:

-          Positif: ketika terdapat sebuah konsep, atau tinggi, konsep yang lain pun ada, atau tinggi dan sebaliknya. Contoh: lelaki lebih tinggi dari wanita, dan sebaliknya (yakni, orang yang tinggi itu cenderung adalah laki-laki)
-          None: adanya sebuah konsep yang tidak memberikan informasi tentang keberadaan konsep yang lain, dan sebaliknya. Contoh: siswa pria dan siswa wanita mempunyai nilai yang sama pada mata kuliah sosiologi.
-          Negatif: ketika suatu konsep terjadi, atau tinggi, konsep lainnya lemah, dan sebaliknya. Contoh: rendahnya jumlah penjualan barang (perubahan dalam keanggotaan) dalam kerja kelompok berhubungan dengan tingginya produktifitas, dan sebaliknya.

Sebagai catatan bahwa hubungan asosiatif itu “kuat” (tingkat asosiatif) antara dua konsep dapat saja terjadi, baik itu positif atau negative. Perbedaan itu terjadi hanya pada cara bagaiamana konsep-konsep itu diberi tanda atau dilabelkan. Contoh, dua pernyataan yang sama di bawah ini, meskipun yang satunya mengekspresikan hubungan yang positif dan lainnya mengekspresikan hubungan yang negative.

-          Tingginya stabilitas (keanggotaan tetap) dalam kerja kelompok berhubungan dengan tingginya produktifitas (korelasi positif)
-          Rendahnya omset (keanggotaan berubah) dalam kerja kelompok berhubungan dengan tingginya produktifitas (korelasi negatif)

Jika hal itu memungkinkan untuk mengembangkan definisi operasioanl kuantitatif (hasil pengukurannya dalam bentuk angka-angka) terhadap kedua konsep itu, maka hal itu juga memungkinkan untuk merepresentasikan tingkat asosiatif atau tingkat korelasi dengan angka. Kebanyakan pengukuran kuantitatif terhadap hubungan didesain untuk menghasilkan angka-angka dari -1.0 hingga +1.0. yang mana angka +1.0 menunjukkan tingkat maksimum korelasi positif, -1.0 menunjukkan tingkat maksimum korelasi negative, dan 0.0 menunjukkan tidak adanya hubungan korelasi.

Pernyataan Causatif (sebab akibat)

Sebagai lawan dari hubungan pernyataan yang mendiskripsikan hubungan asosiatif atau korelasi antara dua konsep, juga terdapat beberapa pernyataan mendiskripsikan hubungan sebab akibat (causal) antara dua konsep tersebut. Dengan kata lain, satu konsep dianggap sebagai penyebab terjadinya konsep kedua. Sebagai contoh:

-          Jika kursi ini milik universitas, maka akan dicat berwarna coklat
-          Jika sebuah kelompok kerja kecil moralnya baik, maka produktifitas akan meningkat.

Dari masing-masing situasi ini, suatu konsep dianggap sebagai cause (penyebab) dari pernyataan pada konsep lain: milik universitas menyebabkan kursi-kursi dicat berwarna coklat, dan meningkatnya moral kelompok menyebabkan meningkatnya produksi. Pernyataan-pernyataan yang menggambarkan hubungan sebab-akibat, yang kadang menunjukkan atas hubungan sebab dan efek disebut dengan pernyataan causative (causal statement). Konsep atau variabel yang menjadi penyebab menunjukkan atas “independent variabel” (variabel bebas) dan variabel sebagai akibat/dipengaruhi disebut juga dengan “dependent variable” (karena variabel ini terikat dengan independent variable).

Yang penting untuk menunjukkan bahwa meskipun pernyataan kausatif dan penyataan asosiatif memiliki bentuk-bentuk yang sama, sering diidentikkan dalam praktek penggunaannya, namun keduanya adalah jenis pernyataan yang sangat berbeda. Sebagai contoh, hal ini sering diobservasi bahwa:

Pada masyarakat industri, panjang rok wanita dan tingkat kesejahteraan ekonomi sangat berhubungan; rok yang lebih panjang diobservasi terdapat selama masa transisi ekonomi, dan rok yang pendek ketika ekonomi itu berkembang.

Meskipun bukti empiris untuk mendukung pernyataan asosiatif, namun tak seorang pun secara serius yang menyatakan bahwa terdapat hubungan sebab akibat diantara kedua variabel ini, bahwa rok yang lebih panjang menyebabkan krisis ekonomi atau sebaliknya. Dalam beberapa situasi, mungkin saja terdapat variabel lain yang menyebabkan lemahnya ekonomi dan rok yang panjang. Perbedaan-perbedaan hubungan asosiatif atau korelasi diantara variabel dan hubungan sebab akibat diantara dua variabel kadang disebut juga dengan sebuah prinsip bahwa hubungan korelasi bukan (tidak semestinya) sebagai hubungan sebab-akibat.

Pada prakteknya, untuk menentukan pernyataan relasional yang termasuk dalam pernyataan asosiasi dan yang mana pernyataan kausalitas rada sulit, sejak bentuk pernyataan (cara mereka menulis) adalah sama. Pembaca terpaksa membuat perbedaan ini dari konteks situasi. Dengan menjelaskan materi sekitar pernyataan, pembaca harus menyimpulkan baik itu kausalitas atau gabungan (korelasi) yang dimaksud oleh penulis.

Jika memungkinkan untuk menghitung konsep-konsep atau variabel-variabel yang digunakan dalam pernyataan kausal, pernyataan itu kemungkinan menggambarkan tingkat kausalitas antara dua konsep. intinya adalah kuantifikasi dari konsep kausalitas. Kuantifikasi tingkat kausalitas hanya berarti ketika ada alasan yang mempercayai bahwa ada lebih dari satu variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen. Untuk itu, jika hanya ada satu kemungkinan penyebabnya, entah itu konsep independen menyebabkan konsep dependen atau tidak. Tidak ada “dasar tengah”  sejak tidak adanya penyebab potensial lainnya.

Namun, jika ada dua atau lebih independen variabel yang mungkin berpengaruh pada sebuah variabel dependen, hal ini logis untuk dimasukan ke dalam pengaruh relative dari dua penyebab perbedaan ini. Pertanyaan ini hanya bisa dijawab jika dependen variabel , salah satunya “dijelaskan” dapat diukur pada level nominal atas (ordinal, interval atau rasio) dan lebih disukai pada tingkat ordinal. Jika dependen variabel dapat diukur seperti dalam mode, peneliti biasanya mengajukan pertanyaan seperti berikut : jika dependen variabel dapat bervariasi (menduga ucapan yang berbeda), berapa banyak variasi ini disebabkan oleh variase dalam independen variabel (s) ?

Hal ini mudah untuk membagi variasi pengukuran (berbeda dari variasi aktual) variabel dependen kedalam tiga kelas :
(1)   Variasi yang secara langsung berhubungan dengan masing-masing variabel dibawah pertimbangan, pertimbangannya hanya pada variabel itu.
(2)   Variabel yang berhubungan dengan interaksi antara dua atau lebih variabel yang mengacu pada “dampak interaksi”. Berbicara secara ketat, efek interaksi ini menjadi konsep teoritikal unik yang lainnya, dibentuk oleh kombinasi dari konsep yang lain.
(3)   Variasi yang disebabkan oleh kesalahan pengukuran, tak dapat dihindari kesalahan dalam mengidentifikasikan tingkat keberadaan dari dependen variabel (salah satunya harus dijelaskan).

Misalnya, sebuah penelitian diharapkan dapat memahami penyebab intelijensi. Dia membentuk selembar kertas dan sebuah pensil tes yang mana masing-masing individu dapat mengambilnya, dan setelah peneliti memberi skor atau nilai tes, dia memberikan skor pada masing-masing individu antara 50 dan 150, mewakili performasinya dalam hubungannya dengan siswa-siswa yang mengikuti tes tersebut. Nilai ini ditujukan untuk mengukur inteligensi. Peneliti kemudian menginvestigasi apa penyebab variasi nilai-nilai ini dan memutuskan utnuk menginvestigasi dua penyebab kemungkinan yaitu inteligensi dan kualitas pengalaman pendidikan orang tua. Kesimpulan penelitian di atas, peneliti menyimpulkan tentang sumber-sumber (penyebab) variasi nilai tes inteligensi sebagai berikut:

SUMBER (PENYEBAB) VARIASI
Persentase total variasi (dijumlahkan untuk) “dijelaskan”
Subtotal
Total
Effek langsung dari independen variabel inteligensi orang tua (nilai tertinggi orang tua berasosiasi dengan nikai tertinggi keturunan)
25%
50%
Kualitas latar belakang pendidikan orang tua (sekolah yang baik berasosiasi dengan nilai tetinggi )
25

Efek interaksi

15
Nilai tertinggi orang tua dan pendidikan yang baik ()
10

Nilai tertinggi orang tua serta pendidikan yang  kurang bagus
0

Nilai rendah orang tua dengan sekolah yang bagus
0

Nilai rendah orang tua dengan sekolah yang kurang bagus ()
5

Kesalahan dalam pengukuran ()

25
Tidak dijelaskan (tidak dijawab)

10
Total variasi yang dijelaskan (selalu 100%)

100%
     
Jenis ringkasan ini hanya mengidentifikasikan sebab variasi; tidak mengindikasikan hubungan yang pasti antara independen dan dependen variabel. Dengan kata lain, proses penyebabnya belum eksplisit; hanya independen variabel yang digambarkan.

Pernyataan Deterministic dan Probabilistic

Semua pernyataan-pernyataan teoritis yang diolah sejauh ini dalam buku ini telah membentuk : Kondisi  C1, …Cn, jika variabel X terjadi, maka variabel Y juga akan terjadi.

Ini adalah sebuah pernyataan yang lugas; dikatakan bahwa Y akan mengikuti periode X . jenis hubungan ini disebut “Deterministic” sebab dependen variabel , Y, ditentukan oleh independen variabel X.
Bentuk lain dari hubungan ini adalah mungkin. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Kondisi di bawah C1, ……Cn, jika variabel X terjadi, maka variabel Y juga akan terjadi dan kemungkinan besar juga akan terjadi pada variabel P.

Hal ini cukup berbeda bentuk hubungannya, untuk mengindikasi bahwa ketika variabel X terjadi, Y juga akan terjadi dan kemungkinan besar juga variabel P dan tidakl akan terjadi dengan kemungkinan besar 1-P (semua kemungkinan harus dijumlahkan menjadi 1). Pernyataan yang berisi jenis hubungan ini disebut Probabilistic.

Beberapa contoh pernyataan probabilistic adalah sebagai berikut :

Dalam grup diskusi kecil, pemimpin yang berkembang akan bertanggung jawab terhadap tindakan yang diberikan (komentar) kemungkinan besar 0.4

Kemungkinan besar seorang pria di Amerika serikat akan menekuni pekerjaan yang sama dengan ayahnya adalah 0.10 jika ayahnya adalah seorang pekerja.

Jika kematian adalah adil, maka kemungkinan terbesarnya adalah bahwa dari segala segi akan muncul roll yang diberikan adalah 1/8  atau 0.1667.

Semenjak inti utama buku ini adalah perkembangan ilmu pengetahuan, dampak perbedaan antara pernyataan deterministic dan probabilistic tidak akan diproses secara detail. Namun tidak ada alasan yang menganggap pernyataan probabilistic kurang ilmiah daripada pernyataan-pernyataan deterministic selama kriterian penerimaan utilitas dalam memperoleh tujuan ilmu pengetahuan.

Sebab pernyataan probabilistic memprediksikan kedua kejadian dan non kejadian pada suatu peristiwa, dependen variabel, ini sangat tidak mungkin untuk membuktikan bahwa terdapat kesalahan pada sampel. Strategi yang lazim digunakan untuk menguji kegunaan pernyataan probabilistic adalah dengan mempelajari sejumlah peristiwa dibawah standar kondisi, lebih banyak persyaratn melalui sebuah tes pernyataan deterministic, dan perbandingan hasil empiric dengan prediksi pernyataan probabilistic. Misalnya : jika menjelaskan bahwa kematian tidak pandang bulu (adil) hal ini pasti dicampakan 10.000 kali dilihat jika setiap sudut muncul kira-kira 1.677 kali (1/6), seperti yang diprediksikan oleh pernyataan “kematian adalah keadilan”.



Tingkatan Abstraksi

Pernyataan dapat dianggap menjadi perbedaan tingkatan abstraksi, tingkatan abstraksi tergantung pada keseluruhan tingkatan abstraksi dalam konsep-konsep yang mencakup pernyataan-pernyataan. Yang terpenting adalah mempertimbangkan tiga level abstraksi; teoritis, operasional, dan konkrit. Yang paling umum adalah tingkatan teoritis, ketika suatu pernyataan mencakup konsep teoritis. Jika konsep teori digantikan dengan definisi operasional yang berhubungan dengan konsep-konsep teori, sehingga pernyataan-pernyataan itu dapat dikatakan menempati tingkatan operasional. Pada akhirnya, jika definisi operasional digantikan dengan temuan-temuan projek penelitian tertentu atau gambaran nyata yang spesifik terhadap suatu kejadian, maka pernyataan itu dikatakan berada pada tingkatan konkrit.

Yang patut diingat bahwa terdapat beberapa definisi operasional yang berhubungan dengan setiap konsep teori; jadi mungkin saja terdapat beberapa pernyataan operasional yang berkaitan dengan setiap pernyataan teoritis. Begitupula, mungkin akan terdapat beberapa pernyataan konkrit yang berhubungan dengan dengan setiap pernyataan operasional. Sehingga ketika setiap pernyataan konkrit akan lebih terspesifikasi dengan waktu, tempat dan tidak kepada pernyataan operasional. Mungkin akan terdapat beberapa keunikan tertentu pada pernyataan konkrit yang tergambarkan pada abstraksi istilah oleh pernyataan-pernyataan teoritis.
Sebuah contoh menurut tingkatan abstraksi ini dapat dibentuk. Fikirkanlah pernyataan teoritis ini:

Jika rentetan nilai dalam suatu masyarakat itu constant, dan jika jumlah masyarakat itu bertambah, maka akan bertambah tingkat keformalitasanya.

Dengan menggatikan tiga konsep teoritis (rentetan nilai, jumlah masyarakat, dan tingkat formalitas) dengan penyesuaian pada definisi operasional (catatan bahwa hubungan antar konsep tidak dapat berubah), maka pernyataan operasional dapat dibuat seperti;

Jika persentasi tenaga kerja yang meninggalkan perusahaan setelah beberapa periode itu konstan, dan jika jumlah anggota karyawan itu bertambah, maka jumlah dan kejelasan aturan-aturan perusahaan dan prosedurnya juga akan meningkat.

Anggaplah bahwa penyataan khusus ini digunakan untuk memandu program penelitian di sebuah perusahaan tertentu dengan hasil penelitian di bawah ini, pada tingkat konkritnya;

Di sebuah perusahaan XYZ dari tanggal 1 Juni 1961 hingga 31 Mei a965, persentasi karyawan yang meninggalkan perusahaan setiap bulan antara 3.8 persen dan 4.6 persen (anggaplah konstan). Perusahaan itu memiliki 3.000 karyawan pada 1 Juni 1961dan 6.400 karyawan pada 31 Mei 1965. Secara manual telah ditemukan di perusahaan itu 4.000 kata sebanyak 2000 halaman dalam 600 aturan tertentu pada 1 Juni 1961. Dan 6.000 kata dalam 325 halaman dibagi 1.000 aturan tertentu pada 31 Mei 1965.

Pernyataan itu jelas merupakan bagian dari pernytaan operasional yang mana pada gilirannya merupakan pernyataan teoritis.

Pernyataan Teoritis

Sebagian besar ‘teori’ menekankan pada pernyataan-pernyataan relasional, lebih tepatnya lagi pernyataan-pernyataan kasatif. Akan tetapi eksistensi pernyataan-pernyataan kadang lebih penting dalam menggambarkan secara tepat dan bermanfaat mengenai kondisi dan keadaan yang ada pada pernyataan relasional. Pikirkanlah contoh di bawah ini:

Diberikan:
(i)     Kelompok kecil yang berpapasan muka bertemu pada pertemuan pertama
(ii)   Setiap anggota kelompok memiliki profesi yang berbeda
(iii) Setiap anggota kelompok ingin mengerjakan tugas dengan baik
(iv) Tugas kelompok membutuhkan kontribusi semua anggota kelompok
Kemudian
(v)   Anggota masing-masing kelompok dengan profesi yang memiliki persamaan dengan tugas kelompok akan lebih terpengaruh dengan aktifitas tugas kelompok dibandingkan dengan anggota kelompok yang memiliki profesi yang tidak sama dengan tugas kelompok.

Empat pernyataan pertam, i-iv, adalah eksistensi pernyataan; yang mana menunjukkan kondisi yang seharusnya terjadi pada pernyataan yang ke-v untuk diterapkan. Pernyataan yang kelima adalah pernyataan relasional; yang menggambarkan hubungan antara karakteristik-karakteristik dimana setiap anggota kelompok bawa ke dalam situasi tersebut, profesinya, dan karakteristiknya yang berhubunga dengan anggota kelompok lain, tingkat pengaruhnya terhadap aktifitas tugas kelompok.

Keseluruhan pernyataan dapat dibuat dalam bentuk:
Diberikan: C1, C2, C3, C4, ….: jika X, kemudian Y.

C1, C2, …mewakili pernyataan i-iv dan “Jika X, kemudian Y” mewakili pernyataan ke-v. selanjutnya, itu akan diasumsikan bahwa semua pernyataan teoritis bisa saja abstrak dan memiliki bentuk semacam ini, satu set kondisi menggambarkan kapan suatu hubungan antara dua konsep dapat diterapkan. Bagaimanapun juga, hal itu dapat dimaklumi bahwa beberapa variasi mungkin dapat diterapkan, seperti hubungan probabilistic lebih baik dari deterministic antara X dan Y.

Pernyataan-pernyataan teoritis acap kali disebut dengan lima perbedaan tanda: hokum (laws), aksioma (axioms), proposisi, hypothesis, dan generalisasi fakta (empirical generalization). Hal ini dimungkinkan terhadap seperangkat kata yang sangat serupa untuk semua lima tanda dari pernyataan teoritis dan secara bersamaan tergantung pada situasi dan kondisi. Sesuatu yang membedakannya yaitu hubungan dari pernyataan teoritis terhadap teori yang sitematik dan temuan lapangan berdasarkan fakta. Dengan alasan ini, lima jenis pernyataan ini akan dibahas pada kaitannya dengan dua dimensi yaitu teori dan data pada bagian selanjutnya.

Hubungan antara Pernyataan Teori dengan Teori

Salah satu istilah yang sangat populer yang digunakan dalam membahas pernyataan teoris adalah kata “Hukum”. Pada dasarnya, hukum adalah pernyataan yang menggambarkan suatu hubungan yang mana para ilmuwan memiliki rasa percaya diri mereka menganggapnya sesuatu yang absolute “kebenaran”. Tiga konsep teori akan dibahasa pada Bab 5, dan gagasan yang paling penting adalah melihat bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya sebuah aturan hukum yang menganggap “kebenaran nyata”. Kebanyakan pernyataan-pernyataan seperti itu disebut “Hukum” biasanya mengandung konsep-konsep yang dapat diukur atau diidentifikasi (dengan definisi operasional yang tepat) dalam pengaturan yang nyata.

Konsep lain dari teori juga dibahas dalam Bab selanjutnya, yaitu bentuk teori axioma. Teori Axioma terdiri dari pengaturan dasar pernyataan, di mana masing-masing independen yang lain (mereka mengatakan hal-hal yang berbeda), dari segala pernyataan-pernyataan teori lain yang mungkin diturunkan secara logis. (Sekolah Tinggi Penerbangan biasanya diperkenalkan sebagai sebuah teori Axioma). Pernyataan-pernyataan dasar dikenal sebagai “axioma” dan pernyataan yang berasal dari axioma disebut “proposisi”. Beberapa para ilmuwan merasa bahwa ada pernyataan yang digunakan sebagai sebuah axioma di dalam suatu teori bisa juga disebut hukum, namun hal itu tidak jelas mengapa pernyataan itu harus memerlukan sebuah karakteristik axioma, dan tidak ada kesepakatan yang lebih luas dalam poin tersebut. Kata “proposisi” juga digunakan untuk merujuk kepada sebuah ide atau dugaan yang di hadirkan dalam bentuk sebuah pernyataan ilmiah, sma halnya dengan cara “hipotesis” yang digunakan (uraian di bawah), namun penggunaan ini tidak memiliki hubungan terhadap proposisi sebuah teori axioma.

“Hipotesis” pada umumnya digunakan untuk merujuk pada pernyataan terpilih untuk membandingkan data yang terkumpul dalam suatu situasi yang nyata. Sumber hipotesis mungkin sebuah variasi hukum, berasal dari sebuah teori axioma (berasal dari axioma dan proposisi), atau mungkin dihasilkan oleh seorang ilmuwan intuisi (suatu dugaan);  namun kebanyakan keunggulan dasarnya adalah pernyataan tetap yang dibandingkan dengan kumpulan data empiris dalam (kehidupan nyata). Sebab hipotesis menjadi uji empiris. Ini penting bahwa semua konsep dalam hipotesis bisa diukur dengan definisi operasi yang tepat, dalam situasi yang nyata.   

Jika pola kejadian yang sama ditemukan dalam jumlah perbedaan pembelajaran empiris, maka pola tersebut sering dirangkum dalam sebuah “Generalisasi empiris” berdasarkan beberapa pembelajaran “empiris”. Sebab para ilmuwan merangkum pola-pola dalam penelitian empiris, hal ini jelas bahwa semua konsep-konsep dalam sebuah generalisasi empiris harus diukur secara langsung. Generalisasi empiris serupa dengan hukum, kecuali jika ia tidak diterima secara umum seperti hukum; kepercayaan diri para ilmuwan dalam sebuah hukum secara signifikan lebih besar dari pada dalam sebuah generalisasi empiris. Semenjak generalisasi empiris menghadirkan rangkuman hasil penelitian, mereka tidak berbagi secara hubungan sistematik kepada konsep khusus teori, kecuali secara hukum potensial. Namun, sebuah teori mungkin dikembangkan untuk “menjelaskan” suatu hubungan rangkuman dalam sebuah generalisasi empiris.

Hubungan antara Pernyataan Teoritis dengan Data Empiris

Pada beberapa paragraf–paragraf selanjutnya akan mengulang gagasan-gagasan yang sama yang telah dijelaskan di atas, kecuali pada suatu orientasi berbeda  yang akan dipergunakan. Hukum, axioma, proposisi, hipotesis dan generalisasi empiris akan dibahas berdasarkan sudut pandang hubungannya terhadap data. Secara saksama hubungannya dengan lima jenis pernyataan yang paling penting adalah pengulangannya mudah dipertahankan jika terjadi peningkatan dalam pemahaman mereka. Gagasan pertama harus diulang bahwa kadang-kadang pengaturan kata-kata yang sama dapat dilihat sebagai salah satu dari kelima jenis pernyataan ini, tergantung pada persepsi ilmuwan terhadap hubungannya antara pernyataan dan teori atau pernyataan dan data empiris.

Hubungan antara hukum, generalisasi empiris dan hipotesis terhadap data adalh satu tingkatan, yang tidak terbentuk. Anggapan yang digunakan pada label ini, sebuah konsep dalam pernyataan disebut sebuah “hukum”, “generalisasi empiris,” atau “hipotesis” harus diukur, menggunakan definisi operasional yang tepat, dalam sebuah pengaturan yang nyata.

Hipotesis adalah pernyataan-pernyataan tanpa dukungan dari penelitian empiris; yang belum diketahui apakah itu benar atau salah. Jika seseorang sedang membahas suatu proyek penelitian, biasanya dirancang dengan sebuah “tes” lebih dari satu hipotesis, sebaliknya, rangkuman dalam bentuk umum, hasil dari beberapa pembelajaran empiris dan para ilmuwan biasanya memiliki rasa percaya diri bahwa pola yang sama akan diulang dalam situasi yang nyata di masa yang akan datang, jika kondisi yang sama terulang. Akhirnya, sebuah hukum adalah pernyataan yang memiliki banyak dukungan empiris dari ilmuwan yang menganggapnya benar. Jika suatu proyek penelitian menghasilkan data yang tidak konsisten dengan kebenaran sebuah hukum, maka ilmuwan akan langsung menduga proyek penelitian lebih condong kepada pertanyaan kepercayaan diri mereka dalam hukum.

Rangkuman, jika belum ada bukti empiris terhadap pernyataan tersebut maka pernyataan tersebut disebut hipotesis. Jika ada dukungan yang menengahinya disebut Generalisasi empiris, jika dukungannya “sangat banyak” maka disebut hukum. Harus diingat bahwa sejak para ilmuwan memiliki standar yang berbeda dalam mengevaluasi pernyataan teoritis, hukumnya seseorang boleh saja sebagai hipotesis bagi orang lain.

Hubungan antara axioma dan proposisi, pernyataannya merupakan bagian dari  teori axiomatic, dan data empiris kurang terarah. Sepanjang axiom dan proposisi mengandung konsep yang “hipotesis” atau tidak dapat diukur secara langsung hubungannya terhadap dunia empiris mungkin lebih terpisah dari pada hipotesis, generalisasi empiris, atau hukum. Namun, axioma dan proposisi mungkin digabung secara demikian untuk melahirkan pernyataan-pernyataan yang hanya mengandung konsep pengukuran yang empiris seperti hipotesis. Dalam hal ini kegunaannya ditentukan oleh koresponden antara pernyataan turunan dan dunia empiris. Ini akan dibahas secara lebih jelas pada dua bab selanjutnya.

Pernyataan-pernyataan berikut bisa jadi hukum, generalisasi empiris, hipotesis, axioma, atau proposes tergantung pada orientasi dan maksud dari peneliti :

Jika volume sebuah gas itu konstan, maka peningkatan temperature akan diikitu oleh peningkatan tekanan.
Jika angka pergantian kepemimpinan dalam sebuah organisasi itu konstan, maka peningkatan ukuran organisasi akan diikuti oleh peningkatan dalam formalisasi (struktur dan prosedur).
Jika seseorang memiliki perilaku yang sama terhadap sebuah objek sebagai teman yang baik, maka tidak mungkin ia akan mengubah perilakunya terhadap objek atau temannya.
Jika seseorang memiliki perilaku yang berbeda terhadap sebuah objek sebagai teman yang baik, ia mungkin akan mengubah perilakunya terhadap objek atau temannya.
Individu yang berasal dari kelas sosial teratas atau kelas sosial elit lebih berpengaruh dalam sebuah grup yang terdiri dari status kelas individu yang berbeda dari pada individu yang berasal dari kelas social yang lain.
Semua pernyataan ini merupakan bentuk dari pernyataan teoritis; mereka abstrak dan menggambarkan suatu hubungan antara konsep-konsep. Sebab konsep-konsep yang digunakan dalam pernyataan ini adalah secara langsung berhubungan dengan definisi operasional dan bisa diukur dalam pengaturan yang nyata, sehingga mereka bisa dikatakan sebagai hukum, generalisasi empiris atau hipotesis.

Pernyataan-pernyataan berikut bisa menjadi axioma atau proposisi:

Insting atau kebutuhan akan identitas akan terpuaskan dengan nyata atau kesan rasa imajinasi.
Jika seseorang tidak setuju dengan dengan temannya tentang perilakunya terhadap suatu objek, kemudian pernyataan tentang tegangan psikologi dihasilkan.
Sebuah pernyataan tentang tegangan psikologi, dihasilkan oleh sebuah ketidak seimbangan struktur pikiran, menghasilkan kekuatan yang condong merubah struktu pikiran.

Bagaimanapun juga pernyataan-pernyataan ini tidak bisa dikatakan sebagai hukum, generalisasi empiris, hipotesis, sederhana saja karena mereka mengandung konsep-konsep yang tidak bisa diidentifikasi dalam situasi yang konkrit menggunakan definisi operasional. Tidak ada cara lain untuk mengukur insting tertentu yang aktif dalam identitas atau tingkatan “gangguan psikologi” yang dialami oleh individu. Pada dasarnya, setiap konsep dalam pernyataan bisa dikatakan sebagai hukum, generalisasi empiris, hipotesis hasrus memiliki hubungan langsung terhadap situasi yang nyata, penggunaan prosedur yang spesifik dalam suatu definisi operasional.  

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar